Flek saat Hamil, Berbahaya atau Normal?

  • Bagikan
Berapa Banyakkah DHA yang Dibutuhkan Oleh Ibu Hamil ?
Ibu Hamil

Pengalaman hamil muda keluar darah seperti haid

Gejala ini merupakan gejala keguguran / abortus. Test pack memang masih akan positif beberapa saat (biasanya 1 minggu) setelah terjadinya keguguran. Ultrogeston adalah obat penguat kandungan (namun bila memang sudah terjadi abortus, maka obat tersebut sudah tidak bermanfaat lagi).

Amoxicillin adalah antibiotik dan kalnex berguna untuk menghentikan perdarahan. Namun, untuk memastikan apakah Anda memang mengalami keguguran atau tidak, maka perlu dilakukan USG.

Hal ini dikarenakan apabila Anda benar mengalami keguguran dan masih terdapat jaringan sisa dalam rahim Anda, maka perlu dilakukan tindakan untuk mengeluarkan jaringan tersebut, karena jika jaringan tersebut tidak dikeluarkan, maka perdarahan akan terus berlanjut.

Anda harus memberanikan diri untuk diperiksa USG, karena apapun hasilnya, hal ini sudah terjadi. Semoga saja hasil USGnya masih baik. Semoga yang terbaik yang terjadi pada Anda.

Perbedaan Bercak Darah Tanda Hamil dan Flek Pendarahan

Pendarahan saat hamil 2 bulan, terutama pada trimester pertama merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Situasi ini sering terjadi pada awal kehamilan karena darah yang dilepas saat telur dibuahi melekatkan diri ke dinding rahim. Namun, flek pendarahan saat hamil tentu berbeda dengan bercak darah tanda hamil. Yuk, simak pendarahan saat hamil muda dan flek tanda hamil di sini!

Pendarahan saat Kehamilan Trimester Pertama

Sekitar 20% wanita mengalami pendarahan pada 12 minggu kehamilan pertamanya. Hal ini sering dijadikan tanda-tanda wanita positif hamil. Kemungkinan penyebab bercak darah tanda hamil tersebut meliputi:

  1. Pelepasan darah saat telur dibuahi melekatkan diri ke dinding rahim. Beberapa wanita tidak menyadari mereka sedang hamil karena menyangka pendarahan ini adalah pendarahan ringan. Umumnya pendarahan ini sangat sedikit dan bertahan dari beberapa jam hingga beberapa hari saja.
  2. Keguguran sering terjadi pada 12 minggu kehamilan pertamanya. Bila Mama tidak mengalami gejala-gejala lain kecuali pendarahan, kemungkinan besar Mama tidak mengalami pendarahan, tetapi pastikan dengan dokter Mama dan lakukan check-up untuk memastikan kondisi janin agar menghindari kemungkinan terburuk.

Beberapa penyebab pendarahan saat kehamilan lainnya meliputi:

  1. Kegiatan seksual atau pap smear yang menyebabkan adanya kontak dengan saluran serviks dapat menyebabkan pendarahan. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan aliran darah yang mengalir ke saluran serviks. Pendarahan seperti ini tidak perlu Mama khawatirkan.
  2. Kemungkinan infeksi pada vagina, saluran serviks, atau penyakit kelamin bisa menyebabkan pendarahan saat kehamilan trimester pertama.

Did you know?

”Pendarahan vagina di trimester kedua kehamilan merupakan salah satu gejala Placenta Previa. Pendarahan sebagai tanda-tanda wanita positif hamil bisa sedikit, bisa juga banyak, dengan warna darah merah terang.

Bercak Darah Tanda Hamil pada Trimester Kedua atau Ketiga

Pendarahan yang abnormal pada usia kehamilan yang lebih tua kemungkinan lebih serius, karena menandakan adanya masalah pada janin atau kondisi Ibu. Jangan ragu untuk langsung menghubungi dokter Mama untuk mengetahui lebih jelas mengenai kondisi kesehatan Mama dan janin.

Kemungkinan penyebab bercak darah tanda hamil saat kehamilan trimester kedua atau ketiga meliputi:

  1. Placenta Previa: Kondisi ini terjadi apabila plasenta berada di bagian bawah saluran vagina dan menyebabkan jalan lahir bayi terhalang.
  2. Pelepasan plasenta: Kondisi ini terjadi apabila plasenta terlepas dari dinding uterus sebelum atau pada saat melahirkan dan darah mengumpul di antara plasenta dan uterus.
  3. Kelahiran prematur: Pendarahan merupakan salah satu tanda tubuh Mama sudah siap untuk melahirkan. Beberapa hari atau minggu sebelum proses persalinan terjadi, pelindung yang menutup pembukaan saluran uterus akan melepaskan diri dari vagina dan biasanya menimbulkan sedikit pendarahan. Jika pendarahan dan tanda-tanda melahirkan muncul sebelum minggu ke 37 kehamilan, hubungi dokter Mama segera karena kemungkinan Mama akan melahirkan prematur.

Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Pendarahan

Lantaran perdarahan pada trimester apapun bisa menjadi tanda awal adanya masalah pada kondisi Mama atau janin, segera hubungi dokter Ibu. Bila flek diikuti gejala lain, Mama harus waspada. Bila terjadi pendarahan, mungkin saja terjadi keguguran.

Jangan tunda untuk menghubungi dokter. Gunakan pembalut agar Mama bisa memantau seberapa banyak darah yang Mama keluarkan. Bawa apapun yang keluar dari saluran vagina pada dokter Mama untuk diperiksa lebih lanjut.

Mama mungkin perlu melakukan USG untuk mengecek penyebab pendarahan Mama untuk evaluasi secara penuh. Segera hubungi dokter jika Mama mengalami hal-hal di bawah ini:

Beberapa gejala keguguran yaitu:

  • sakit punggung ringan sampai berat,
  • berkurangnya berat badan,
  • keluar lendir berwarna pink dan putih dari vagina,
  • kram atau kontraksi, dan
  • gumpalan darah keluar dari vagina.

Bila mengalami keguguran, kecil kemungkinan untuk mempertahankan janin.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, segera hubungi dokter kandungan dan melakukan tes USG.

Dokter biasanya akan merekomendasikan melakukan tindakan kuret untuk membersihkan rahim.

Bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth)

Kondisi bayi meninggal dalam kandungan (stillbirth) biasanya terjadi dengan tanda perdarahan saat hamil.

WHO menyebutkan, stillbirth terjadi pada janin usia 28 minggu atau lebih tanpa ada tanda kehidupan dari janin.

Tanda yang bisa ibu hamil rasakan ketika janin mengalami stillbirth adalah:

  • nyeri perut atau kram,
  • perdarahan dari vagina, dan
  • kontraksi.

Sementara itu, beberapa faktor yang meningkatkan risiko ibu hamil mengalami still birth yaitu:

  • kegemukan,
  • merokok,
  • hamil usia lanjut,
  • mengandung bayi lebih dari satu (kembar),
  • mengalami komplikasi kehamilan.

Bayi meninggal dalam kandungan (still birth) merupakan kondisi yang bisa terjadi pada siapa saja.

Namun, bisa dihindari dengan mengurangi salah satu faktor risiko sehingga perlu berkonsultasi diskusi dengan dokter untuk mengatasi faktor risikonya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan