Kenali Ciri-Ciri Berita Hoax, Kamu Harus Tahu

oleh

Di era digital saat ini hoaks sudah menjadi lahan bisnis. Ia menyamakan hoaks dengan narkoba. Ada produksi, ada yang membutuhkan, dan ada yang mencari keuntungan.(Hoaks) merusak mentalitas dan cara berpikir masyarakat. Sama-sama juga sulit diberantas. Hoaks juga berbahaya bagi demokrasi kitaCiri-ciri kabar hoaks. Hoaks dapat terjadi pada lingkup ekonomi, sosial, kesehatan, hingga politik. Yang paling marak, kata Henri, hoaks dalam konteks politik.Tujuan berita hoax untuk  menimbulkan kecemasan, kebencian dan permusuhan di masyarakat, atau meng-glamourising tokoh tertentu.

Kemudian, sumber informasi tidak jelas, tidak bisa diklarifikasi, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Ciri-ciri berikutnya menggunakan kalimat provokatif seperti “Lawan”, “Viralkan”.

Seringkali menggunakan fanatisme agama untuk membenarkan infromasinya dan mencari dukungan. Memunculkan tulisan dan panggilan yang buruk.

Mari kita simak ciri-ciri berita hoax yang mudah untuk kita kenali.

1. Judulnya provokatif bahkan intimidatif
Ciri pertama yang paling gampang kita lihat pada hoax yaitu judul artikel provokatif atau bahkan intimidatif. Ini dimaksudkan agar orang-orang tertarik dan terpancing emosi untuk membaca artikel lebih lengkap. Contoh, “Rina Nose buka jilbab, bilang Islam ajaran sesat”. Dilihat judulnya saja sudah sangat provokatif. Anda sebagai orang Islam pasti emosi meledak-ledak jika melihat kata Islam ajaran sesat. Sopasti anda bakal klik link tersebut untuk baca lebih lanjut, dan masuklah kamu pada perangkapnya.
Disamping provokatif, judul artikel kadang mengintimidasi. Contoh, “Jangan gunakan peralatan masak dari aluminium, anda akan mati dalam seminggu”. Kamu pasti penasaran, karena di dapurmu pasti banyak peralatan masak dengan berbahan aluminium. Akhirnya kamu klik linknya masuk lagi pada perangkapnya.
So, sebaiknya gak usah buka link dengan judul begituan ya..
2. Tak hanya judul, isi artikel pun provokatif bahkan intimidatif
Hoax biasanya berargumen hanya melihat pada satu sisi. Untuk memperkuat argumennya ia terus menghubungkan dengan alasan, kejadian, maupun berita yang sudah diplintir jauh dari fakta sebenarnya. Tak heran akan banyak dijumpai kata cacian, hinaan, makian, dan hal yang menakutkan.
Kalau kamu tidak bisa mengontrol emosi, pasti kamu akan segera membagikan atau paling tidak membubuhkan komentar. Nah ini sebenarnya yang diharapkan oleh mereka. Dengan begitu peluang untuk mengisi pundi-pundinya dengan rupiah semakin besar. Dan kamu telah membantunya.
3. Memaksa untuk like dan share
Sering kan dijumpai terutama di Facebook, ada postingan yang mau tidak mau kamu harus menyukai dan membagikannya. Misal, “Like, coment and share: masuk surga, Abaikan: masuk neraka”. Anehnya, postingan semacam ini justru banyak yang like dan share pula. Kamu yang pemalas pun akhirnya cari jalan pintas, terpancing emosi, akhirnya pun masuk perangkap like, coment, bahkan share pula. Contoh lagi, WhatsApp warna yang mewajibkan share ke 10 orang atau grup. Atau semacam seminar online yang mewajibkan share pada beberapa group WA, pas mau gabung eh grupnya sudah penuh. Kepancing emosi kan?

Tinggalkan Balasan